Pacar Senja / Joko Pinurbo

Image

 

Senja mengajak pacarnya duduk-duduk di pantai.
Pantai sudah sepi dan tak akan ada yang peduli.

Pacar senja sangat pendiam: ia senyum-senyum saja
mendengarkan gurauan senja. Bila senja minta peluk,
setengah saja, pacar senja tersipu-sipu.
“Nanti saja kalau sudah gelap. Malu dilihat lanskap.”

Cinta seperti penyair berdarah dingin
yang pandai menorehkan luka.
Rindu seperti sajak sederhana yang tak ada matinya.

Tak terasa senyap pun tiba: senja tahu-tahu
melengos ke cakrawala, meninggalkan pacar senja
yang masih megap-megap oleh ciuman senja.
“Mengapa kau tinggalkan aku sebelum sempat
kurapikan lagi waktu? Betapa lekas cium
menjadi bekas. Betapa curangnya rindu.
Awas, akan kupeluk habis kau esok hari.”

Pantai telah gelap. Ada yang tak bisa lelap.
Pacar senja berangsur lebur, luluh, menggelegak
dalam gemuruh ombak.

(2003)

Kepada Cium / Joko Pinurbo

Image
 
Seperti anak rusa menemukan sarang air
di celah baru karang tersembunyi,
 
seperti gelandangan kecil menenggak
sebotol mimpi di bawah rindang matahari,
 
malam ini aku mau minum di bibirmu.
 
Seperti mulut kata mendapatkan susu sepi
yang masih hangat dan murni,
 
seperti lidah doa membersihkan sisa nyeri
pada luka lambung yang tak terobati.
 

2006

Hanya Isyarat / Rectoverso / D e e

image

“… Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta. Namun orang itu hanya dapat kugapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar. Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara, langit, awan, atau hujan.”

original picture courtesy of edita ikawidya